Minggu, 30 Agustus 2009

Mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar. Sebenarnya, makna mendidik lebih luas maknanya dibandingkan dengan mengajar. Mendidik dapat dilakukan dengan cara mengajar. Tetapi mengajar di dalam kelas, sebagai misal, tidak selalu sebagai proses untuk mendidik. Memang, mendidik dan mengajar sering dimaknai secara tumpang tindih. Seorang guru mengajar di dalam kelas dengan maksud untuk mendidik peserta didik.

Lebih dari itu, tingkah laku guru akan menjadi faktor yang penting dalam proses pendidikan, karena tingkah laku guru akan menjadi suri teladan bagi murid-muridnya. Pepatah petitih masa lalu "guru kencing berdiri, murid kencing barlari" sangat tepat untuk menggambarkan tentang proses pendidikan dengan suri keteladanan ini. Bahkan kini pepatah petitih itu dipelesetkan menjadi "guru kencing berdiri, murid mengencingi gurunya".

Rabu, 26 Agustus 2009

Proses Belajar Mengajar yang Efektif dan Efisien PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Imam Wahyudi, S.Si.
Jumat, 08 Juni 2007

Menurut Popham dan Baker dalam Hadi dkk (1992), proses belajar mengajar yang efektif adalah kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan dari kemampuan dan persepsi siswa. Lebih jauh, Popham dan Baker menjelaskan bahwa proses belajar mengajar yang efektif tergantung pada pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan proses belajar mengajar.

Sedangkan Alatis dan Altman (1981: 44) mengusulkan bahwa untuk memaksimalkan keefektifan, seorang guru perlu memahami ketidaksesuaian antara apa yang dibawa siswa dalam situasi pembelajaran bahasa yang formal dan tuntutan yang diminta oleh guru dan teks, tuntutan sistem ujian, dan harapan untuk prospek ke depan.

Ahli lain, McWhorter (1992: 3) menyatakan bahwa efisiensi adalah kemampuan untuk menunjukkan sesuatu dengan sedikit usaha, biaya, dan pengeluaran. Efisiensi mencakup penggunaan waktu dan sumber daya secara efektif untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Sebagai kesimpulan, ada dua hal utama yang diperlukan untuk mencapai proses belajar mengajar yang efektif. Pertama, harus ada kegiatan analisis kebutuhan siswa. Kebutuhan siswa adalah hubungan antara kemampuan dan harapan siswa dari proses pembelajarannya. Kedua, harus ada gambaran seperti apa sistem ujian yang dipakai. Jadi, harus ada kesesuaian antara kebutuhan siswa dan sistem ujian.

  1. Pembelajaran Reading

Carrel dkk (1988: 12) menyatakan bahwa reading adalah kemampuan bahasa yabg reseptif. Maksudnya adalah proses psikolinguistik dimana hal ini dimulai dengan perwujudan unsur kebahasaan yang disandikan oleh penulis dan diakhiri dengan makna yang dibentuk oleh pembaca.

Reading (membaca) yang efektif adalah kemampuan seseorang untuk membentuk makna dari teks yang sesuai dengan maksud penulis. Seseorang dikatakan mempunyai kemampuan membaca secara efisien jika dia mampu menggunakan waktu yang tersedia dengan efektif untuk membaca dan memahami makna yang terkandung pada bacaan.

  1. Pembelajaran Writing

Menurut Borowich (1996: 13), untuk melakukan kegiatan writing (menulis) yang efektif diperlukan banyak waktu, atau bahkan bisa dikatakan pemborosan waktu. Seorang penulis membutuhkan waktu yang longgar untuk mengekspresikan gagasan, menyusunnya, dan menulis ulang sehingga menghasilkan tulisan yang baik. Harmer (1983: 48) menuliskan bahwa dalam mengajarkan writing, guru harus mempertimbangkan beberapa hal, misalnya penyusunan kalimat menjadi paragraf, bagaimana paragraf digabungkan, dan pengelompokan gagasan sehingga menjadi tulisan yang koheren.

Dengan mengacu pada teori-teori di atas, seorang penulis akan menghabiskan banyak waktu untuk menghasilkan tulisan yang baik. Penulis melakukan berbagai langkah, mengungkapkan gagasan, menyusun dan menulis ulang gagasan tersebut. Efisiensi dapat diperoleh apabila penulis mempunyai konsep yang jelas sebelum memulai kegiatannya. Menulis secara efektif dan efisien akan menghasilkan tulisan yang baik yaitu tulisan yang koheren.

  1. Pembelajaran Listening

Harmer (1983) menyatakan bahwa listening (mendengarkan) sebagai suatu keterampilan berbeda dengan writing. Dalam listening, pendengar tidak dapat melihat apa yang dia dengarkan, tetapi hanya bisa mendengarkannya. Harmer juga menjelaskan tentang kriteria materi untuk listening. Menurutnya, dengan melihat kesulitan yang ada dalam materi listening, kita akan mempunyai gambaran untuk menanganinya. Pertama, kita harus memahami materi seperti apa yang ingin didengarkan oleh siswa. Kedua, jika memungkinkan, guru memberikan bantuan kepada siswa untuk memahami teks. Yang terakhir dan mungkin yang paling penting, kita harus yakin pada kualitas tape recorder yang kita gunakan untuk kegiatan listening.

  1. Pembelajaran Speaking

Menurut Finnochiaro dan Bonomo (1973: 110), untuk menumbuhkan minat dan mendorong komunikasi, percakapan sederhana harus diikutsertakan pada awal pembelajaran, lagu harus diajarkan, cerita harus diperkenalkan sehingga siswa dapat meresponnya. Tetapi, pada waktu yang bersamaan juga harus diajarkan tentang unsur-unsur bahasa yang lainnya, seperti grammar dan pronunciation.

Sedangkan Robinett (1978) menjelaskan bahwa aktifitas lisan akan lebih bisa dikendalikan, atau dengan kata lain lebih bebas. Dia juga menyatakan bahwa harus diperhatikan juga masalah yang berkaitan dengan pengucapan (pronunciation) pada waktu mengajarkan speaking.

Kesimpulannya, pembelajaran speaking (berbicara) tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama berkaitan dengan komunikasi yang dilakukan setiap hari. Untuk mencapai pembelajaran speaking yang efektif, proses pembelajaran harus berhubungan dengan percakapan yang autentik. Selain itu guru juga harus bisa mendorong siswa untuk mengekspresikan gagasannya dalam kelas. Dalam pembelajaran speaking, grammar (termasuk kosakata dan structure) sebaiknya diajarkan selangkah demi selangkah sehingga siswa dapat mengikuti dengan baik dan akan tercapai hasil sesuai yang diharapkan.

*) Penulis adalah Guru SD YPPSB 1 Sengata


Minggu, 23 Agustus 2009

DAFTAR SISWA KELAS XI.IA.1 YANG REMIDIAL UJIAN BLOK I

1.Nurfadil
2.Muh.Basri L
3.Dwi Retno Anjani
4.Mutmainnah B
5.Akhir Ramadhan Pahmal
6.Kasma
7.A,Nurfauziah Palla
8.A.Muh.Fahmi
9.A.Nurfaiziah Palla
10.Saidah Arumi S
11.Aan Hilmawan
12.Irma Suriyani
13.Muh.Yusran

Kamis, 20 Agustus 2009

PENGUMUMAN

Jadwal libur Ramadhan dari Tanggal 22 Agustus 2009 s.d 26 September 2009
Masuk sekolah Senin Tanggal 28 September 2009

Rabu, 19 Agustus 2009

INFORMASI

Siswa Kelas XI.IA.1, IA.2 dan IA.3 sudah selesai ujian blok I.
Kepada Siswa yang remidial supaya belajar dan siap untuk mengikuti remidial tersebut

AMALIAH RAMADHAN

Smansa Pangsid dalam liburan puasaTahun ini akan diisi dengan Amaliah ramadhan.
Amaliah ramadhan akan dilaksanakan pada minggu I dan II Bulan Ramadhan
Untuk Kelas X dilaksanakan Tanggal 24 s.d 29 Agustus 2009
Untuk Kelas XI dilaksanakan tanggal 31 Agustus s.d 5 September 2009
Kegiatan dilaksanakan jam 07.30 s.d 12.00 siang
Kepada siswa diharapkan untuk mengikuti acara ini dengan penuh hikmat.

Siswa SMANSA Pangsid Lolos Ke Babak Ke-3 Cerdas Cermat

Smansa Pangsid meloloskan siswanya kebabak ke-3 Cerdas Cermat yang dilaksanakan oleh Mitra TV Kerja sama dengan Pemerintah Kab.Sidrap dan Dinas Pendidikan Kab.Sidrap
Cerdas cermat dilaksanakan pada hari Rabu Tanggal 19 Agustus 2009 yang diikuti oleh
SMA Negeri 1 Panca Lautang, SMA Negeri 1 Pitu Riawa Dana SMANSA Pangsid.
Peserta SMNASA terdiri dari dari ISNADA NASRULLAH Kelas Xi.IA.1, IRFAN ASHARI HIYAHARA Kelas XII.IA1 IRDIANTI Kelas XII.IA.1 dan RIAN RASMI PESONA Kelas XI.IA.1.
Rencananya babak ke-3 (semi Final) akan dilaksanakan pada hari Jum'at Tanggal 21 Agustus 2009.Kepada Sivitas SMANSA Pangsid untuk mendoakan rekan kita supaya sukses dalam kegiatan tersebut

Kamis, 23 Juli 2009

PERINGKAT UMUM 10 BESAR SMANSA PANGSID 2008/2009

KELAS X

1.ISNADA NASRULLAH (X1)
2.RESKI ELI SAFITRI (X1)
3.INDRIANI H.ISMAIL (X1)
4.SAMSURIAH (X9)
5.EKA WAHYUNI (X1)
6.DINUL FITRIAH (X1)
7.INDRIYATI (X!0
8.HENNY POERWANTI (X1)
9.HENDRIK (X7)
10.MUH.YUSRAN (X1)

KELAS XI.BAHASA
1.MUH.RIDWAN
2.SUDIANTO
3.YUSPI
4.MUH.AKBAR
5.HARDIANSYAH
6.IKBAL
7.SITI MENTARI
8.BUDIANTO
9.MUH.DAVIED NURDIN
10.RYAND SARWANTO

KELAS XI ILMU ALAM
1.IRFAN ASHARI HIYAHARA
2.MUH.ASRI WAHID
3.ANDI MEKASARI
4.ST.FATIMAH
5.NURZANI
6.EKA SYARIF HIDAYAT SUNARTO
7.ZULHIJRIANI
8.FITRI SABIR
9.RAISYAH UTAMI RIDWAN
10.AGUSSALIM

KELAS XI ILMU SOSIAL
1.LILYANI
2.ZULHAM DARWIS
3.ZULHIJRIAH ZAINUDDIN
4.JUMRIAH
5.ASRI NOVITA T
6.HARDIANTI EKA UTAMI
7.MAHMUDDIN
8.ASRIADI
9.HARUN
10.RISMA FRIDAYANTI

By.NURDIN

Minggu, 24 Mei 2009

UCAPAN SELAMAT

Selamat Kepada Siswa SMA Negeri 1 Pangsid yang berhasil bebas tes (JPPB) UNHAS 2009
SEMOGA SUKSES...

1.MUKARRAMAH MUSTAMIN ( Agribisnis)
2.KHAERUL AHMAD ( Teknik Arsitektur)
3.ABDURRACHMAN RAHIM ( Statistika)
4.RIRIN ANGRENI S ( Teknik Industri )
5.NURUL RAHAYU BASO AMIR ( Teknik Sipil)
6.HARYANTI PUTRI RIZAL ( Ilmu Kimia)
7.ANDI NURUL ADHYAKSA ( Ilmu Hukum )
8.ANDI ARYUNI RAHAYU ( Ilmu Politik )
9.ABU RIZAL ( Sastra Inggris )

By NURDIN,S.Pd

Kamis, 27 November 2008

PARABOLA
Parabola merupkan himpunan titik-titik yang jaraknya terhadap suatu titik (fokus) dan suatu garis sebarang (directrix) adalah sama. Parabola memiliki persamaan matematis yang berupa persamaan kuadrat. (selengkapnya)
Sumber : e-dukasi.net
Trigonometri
Matematika menyimpan suatu keindahan. Bunga
matahari, ikan bintang, cangkong keong, batu permata
merupakan contoh keindahan
(selengkapnya)
Sumber : e-dukasi.net

LINGKARAN
Lingkaran adalah salah satu
bentuk irisan kerucut.
Selain lingkaran terdapat
irisan kerucut lainya yaitu ellips,
parabola, dan hyperbola
Sumber : e-dukasi.net
MATRIKS
Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam proses
penyeleseian permasalahan dalam pelajaran lain,
sering diharapkan kepada pencarian nilai beberapa
peubah (variable). Matriks adalah salah satu media
bantu untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.
Sumber: e-dukasi.net

Selasa, 25 November 2008

Hakikat Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik

a. Hakikat Pembelajaran Behavioristik

Thornike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus tersebut. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbeagai situasi yang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (1990:14) teori Thondike ini disebut teori asosiasi.
Selanjutnya, Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick, 1981:13) mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hokum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon serting terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hokum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan – yang telah terbentuk akibat tejadinya asosiasi antara stimulus dan respon – dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.
Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat hamper senada dengan hokum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus – respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negative adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).

b. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata,
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.*)
Penulis adalah Guru SD YPPSB 1 Sengata
Sumber : Agmi

Selamat Datang di Blog Mat-Mat Smansa Pangsid

Blog Matematika Smansa Pangsid dideklarasikan pada 26 November 2008 di Hotel Dinasty Makassar pada acara Pelatihan Bahan Ajar Berbasis Teknologi Informasi Melalui Sekolah Cerdas Indonesia (SCI) yang diselenggarakan oleh SCI berkerja sama dengan Diknas Propinsi Sulawesi Selatan.
Blog Matematika Smansa Pangsid merupakan wadah berkumpul dan berkiprah guru, Siswa dan simpatisan matematika. Sebagai sebuah ajang saling sharing pendapat, pengalaman dan pemikiran demi terciptanya peningkatan mutu pendidikan matematika pada khususnya dan pendidikan nasional pada umumnya.

Jumat, 21 November 2008

Ajang PENDAPAT

Apa pendapat kamu tentang PELAJARAN MATEMATIKA.......?